nice island

0 comments

Panas seperti kota ku, itu lah kata yang pertama kali ku keluarkan saat ku keluar dari pintu bandara Ngurah Rai. Serasa ingin cepat-cepat mandi di kost an yang sudah disiapkan teman sejawat ku disana. Dan kembali menceburkan diri di laut luas yang telah berada di benak ku sejak pertama kali ku punya plan ke pulau ini.

Malam ku diselimuti kegelisahan saat ku berada di pantai paling terkenal dengan ombak nya yang dahsyat sehingga banyak wisatawan asing yang menyukainya untuk surfing. Gelisah ku berada diantara pasangan kasmaran yang sedang memadu kasih di tepi pantai di perempat malam dimana aku hanya bersama sahabat wanita ku. Kami hanya bisa memandang dan berbisik "Kenapa kita yang sesama wanita?". Di dalam hening kami tertawa kecil.

Panas makin terasa saat kami ber-8 bersepeda tak tentu arah. 8? Bukankah seharusnya hanya 3? Ya, karena bertambah personil dengan adanya teman dari teman ku yang berkebetulan juga meluangkan waktu ke pulau itu. Dibalut dress semi kaos, handycam, dan kamera ku telah tertelan 4 kawasan wisata disana.

Sunset itu sangat indah, ditambah dengan pelukan telapak tangan nya di tangan ku, serasa nyaman. Tapi kembali sadar otak ku, dia adalah sahabat wanita ku! Kembali kualihkan genggaman ini menuju sesosok berbulu dan perokok berat. Ya, kamulah pacar sehari ku.

Terasa Berat Sekali

0 comments


Tanda centang telah terbubuhkan di tiap benda di dalam list bawaan ku. Mulai dari handuk, baju ganti, mie instan, sampai tisue basah telah masuk ke dalam ransel bertulis eiger. Tak lupa tutup kepala sebagai tanda aku adalah seorang muslimah. Terakhir ku selipkan tas kresek warna putih 2 buah ke samping saku dan sebotol minyak kayu putih sebagai penghangat tubuh.

3 jam perjalanan menuju KM 69 dari Malang ke arah selatan, tempat yang dalam fikiran ku penuh dengan pasir putih dan air yang jernih sehingga mata ku dapat melihat isi dari nya. Dan beratapkan langit biru bercampur semarak awan putih yang bersih, serta nyiur yang melambai. Dan matras yang digelar di bawahnya. Hemmmm, tercium sudah bau amis tapi segar itu di otak ku.

Tepat pukul 07.00 tanda tangan surat ijin "pendidikan pecinta alam" ku torehkan di selembar kertas perjanjian sebelum kami memulai hari ini. 8 orang ku tulis pada text box "pengikut" ku. Bersama dengan bersandarnya perahu di pinggiran pulau tak bertuan ini, kami melangkahkan kaki. Betapa terkejutnya rupa ku begitu melihat jalanan menuju ke sana. Pertanyaan besar terus bersarang di kepala ku, "Kenapa aku memakai sandal jepit, bukan nya sepatu adventure ku?!". Karena yang kurasakan hanya lumpur dan akar bakau yang tajam di telapak kaki ini.

Dengan atau tidak sengaja

1 comments
Pagi bertemu siang, siang berganti malam, begitu seterusnya sampai 2 hari berturut-turut. Ditemani seorang pria, aku terdampar di ruang sempit seluas 3x3 meter. Hanya rasa putus asa yang ada di otak, tapi lelaki ku tak tahu. Selama 24 jam lebih menumpahkan keluh kesah bersamanya.

Entah apa yang dia harapkan dari suasana panas itu. Yang aku tahu hanya mengunci mulutku agar tidak ada sepatah kata pun terlontar tentang fikiran negatif ku terhadapnya. "Biarkan saja berlalu, anggap ini adalah permainan, seperti biasanya", kataku dalam hati.

Lelaki yang ku kenal pendiam, cerdas, dan egois mulai berubah menjadi sedikit berlawanan dengan sifatnya yang ku ketahui. Karena aku kurang mengenalnya atau memang aku tidak tahu yang sebenarnya? Entahlah, aku tak peduli.

Masi terngiang-ngiang di ingatan ku waktu itu. jam 11 siang tapi terasa gelap sekali di ruangan. Aku dan dia berada diatas awan dan tak berapa lama kami kembali terjatuh karena mimpi yang indah tapi terlarang itu telah sirna oleh kesadaran otak.

Sickdie

0 comments
Sayup-sayup ku dengar lagu Polisi Jancuk dari luar sebuah studio musik di sekitar kawasan Sekolah Menengah Atas kota ku. Masih dengan seragam warna biru lengkap dengan dasi dan emblem di pundak, ku masuki ruang seluas 5x4 meter itu. Dingin, tak seperti di luar yang suhunya mencapai 36 derajat Celcius. Genap 4 orang sekarang di dalamnya, seperti biasanya.

Ku sulut rokok, meskipun ada larangan. Bergantianlah kita menghisapnya di sela lagu-lagu Kurt Cobain dan lagu-lagu ciptaan mereka bertiga. Ruangan yang sebelumnya dingin menjadi agak sedikit panas karena asap rokok yang mengepul, tidak adanya ventilasi dan ditambah udara luar yang disembul lewat AC.

2 jam berlalu dibarengi dengan gitar melodi dan bass yang tak bisa lagi dipetik karena tak ada aliran listrik mengalir diantaranya dengan amplifier. Stick drum dilemparkannya begitu saja. Sedangkan aku masih malas beranjak dari tempat ku duduk bersila dibawah stang mic. "Brak", terdengar keras suara pintu ruangan itu karena ditutup dengan kasar. Setengah absolute vodka ku berikan pada kakak pemilik studio sebagai bayaran 50% atas sewa alat dan tempat. ^^


Diantara pagi dan lagu

0 comments
Pagi itu diselimuti kabut tebal. Daun-daun di halaman rumah masih basah oleh hujan tadi malam. Hawa dingin masih menyelimuti badan. Tapi ku sadari mentari sudah mulai meninggi. Ku beranikan diri untuk membersihkan diri dan beranjak untuk pergi meninggalkan kota ku.

Dengan motor yang digerakkan secara otomatis ku lalui jalanan panjang antara kota Surabaya dan Malang. Headset dari Nokia N73 yang sudah tidak berfungsi pada bagian right menemani di telinga, dengan setia memperdengarkan lagu-lagu dari playlist yang sudah ku pilih lagu-lagu favourite. Sarung dengan merk yang biasa memproduksi alat-alat hiking ku pakai untuk melindungi telapak tangan dari panas matahari. Laju 90-100 km/jam tak terasa telah ku lampaui.

Alunan musik sangat mempengaruhi otak ku. Dengan lagu rindu setengah mati dari D'Masive ku mampu menangis tanpa kata di tengah gersangnya tanah di sekitar lumpur lapindo. Begitu juga dengan down with the sicknes nya Disturbed membawa gas di tangan menjadi tak terkendali melewati dinginnya kebun raya Purwodadi. Alangkah berungtungnya ku berkata saat otak dipenuhi dengan lirik dari trouble is a friend Lenka.

Salam ku ucap sesampai motor ku parkir di halaman kost yang sudah ku tempati selama 3 tahun lebih 5 bulan. Tidak ada seorang pun yang membalas, "Mungkin mereka masi tidur", pikir ku. "Kunci...kunci...kunci", perkataan ku yang keluar setelah di depan pintu dengan nada sedikit tinggi dan cepat. Oh God! begitu bodohnya...setelah ku lihat handphone ku dan kubaca pesan yang ada di dalamnya. "Dik, kuncimu ketinggalan di atas lemari", pesan dari Mbak Lia pada jam 09.15 dan sekarang adalah jam 10.15. "Fiuhhhh", desah ku saat ku duduk bersimpuh di depan pintu kamar kost ku. ^_^